Nama : Annisa Nur Azizah
NPM : 10090312248
Kelas : Manajemen E
BAB
I
PENDAHULUAN
Controlling
atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk mengamati secara
terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah
disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi.
Controlling
atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah
memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan
pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan.
Di dalam manajemen perusahaan yang modern fungsi control ini biasanya dilakukan
oleh divisi audit internal.
Pengawasan
merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi.
Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi
pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan
rumusan tentang pengawasan sebagai: “the process by which manager determine
wether actual operation are consistent with plans”.
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian dan pentingnya pengendalian
Pengendalian adalah suatu proses
pemantauan prestasi dan pengambilan tindakan untuk menjamin hasil yang
diharapkan. Sedangkan Proses Pengendalian manajemen adalah pross dimana manajer
pada seluruh tingkatan memastikan bahwa orang-orang yang mereka awasi
mengimplementasikan strategi yang di maksud.
Proses pengendalian megukur kemajuan kearah tujuan dan memungkinkan manajer mendeteksi penyimpangan dari perencanaan tepat pada waktunya untuk mengambil tindakan perbaikan
Proses pengendalian megukur kemajuan kearah tujuan dan memungkinkan manajer mendeteksi penyimpangan dari perencanaan tepat pada waktunya untuk mengambil tindakan perbaikan
Pengawasan, Pengendalian atau Controlling adalah salah
satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan
koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar
dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula.
Dalam melaksanakan kegiatan controlling, atasan
mengadakan pemeriksaan, mencocokan, serta mengusahakan agar kegiatan-kegiatan
yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan serta tujuan yang
dicapai.
Pengendalian
sebagai sebuah fungsi dari manajemen telah mengalami perkembangan definisi dari
masa ke masa, yang cukup popular adalah pendapat Usury dan Hammer (1994:5) yang
berpendapat bahwa
“Controlling is management’s systematic efforts to achieve objectives bycomparing performances to plan and taking appropriate action to correct important differences” yang artinya pengendalian adalah sebuah usahasistematik dari manajemen untuk mencapai tujuan dengan membandingkankinerja dengan rencana awal kemudian melakukan langkah perbaikan terhadap perbedaan-perbedaan penting dari keduanya. Namun secara sederhana pengendalian dapat diartikan sebagai proses penyesuaian pergerakan organisasi dengan tujuannya
“Controlling is management’s systematic efforts to achieve objectives bycomparing performances to plan and taking appropriate action to correct important differences” yang artinya pengendalian adalah sebuah usahasistematik dari manajemen untuk mencapai tujuan dengan membandingkankinerja dengan rencana awal kemudian melakukan langkah perbaikan terhadap perbedaan-perbedaan penting dari keduanya. Namun secara sederhana pengendalian dapat diartikan sebagai proses penyesuaian pergerakan organisasi dengan tujuannya
2. Proses/langkah-langkah
pengendalian
Mochler dalam
Stoner James, A. F. (1988) menetapkan empat langkah dalam proses pengendalian,
yaitu sebagai berikut:
- Menentukan standar dan metode yang digunakan untuk mengukur prestasi.
- Mengukur prestasi kerja.
- Menganalisis apakah prestasi kerja memenuhi syarat.
- Mengambil tindakan korek
Jenis-jenis Pengendalian (kontrol)
Stoner James,
A. F. dan Wankel, Charles (1988) mengelompokkan jenis-jenis metode pengendalian
dalam empat jenis, yaitu:
Pengendalian Pra-Tindakan (pre-action control)
Menurut konsep
pengendalian, suatu tindakan bias diambil bila sumberdaya manusia, bahan dan
keuangan diseleksi dan tersedia dalam jenis, jumlah dan mutu yang tepat.
Pengendalian Kemudi (Steering Control) atau Pengawasan Umpan Maju (Freeforward
Control)
Metode ini
dibentuk untuk mendeteksi penyimpangan dari beberapa standar atau tujuan
tertentu dan memungkinkan pengambilan tindakan koreksi di depan. Bila pemimpin
melihat adanya penyimpangan dia dimungkinkan untuk melakukan koreksi, sekalipun
kegiatan belum selesai dilakukan. Pengendalian ini efektif bila pemimpin pada
waktu yang tepat dapat memperoleh informasi yang akurat.
Pengendalian Secara Skrining atau Pengendalian Ya/Tidak (Screening or
Yes/No Control)
Metode ini
sangat luas digunakan karena mampu melakukan penelitian ganda, ketika pengmanan
terhadap resiko tindakan manajer sangat diperhatikan. Metode ini fungsional
bila prosedur dan syarat-syarat tertentu disepakati sebelum melakukan kegiatan.
Pengendalian Purna-Karya (Post-Action Control)
Metode
pengendalian digunakan untuk melihat adanya penyimpangan arah dan tujuan
perusahaan setelah kegiatan selesai.
3. Jenis-jenis pengendalian
a. Pengendalian preventif (pencegahan)
merupakan kontrol sosial yang dilakukan sebelum
terjadinya pelanggaran atau dalam versi ”mengancam sanksi” atau usaha
pencegahan terhadap terjadinya penyimpangan terhadap norma dan nilai. Jadi,
usaha pengendalian sosial yang bersifat preventif dilakukan sebelum terjadi
penyimpangan.
b. Pengendalian represif (penyelesaian)
Pengendalian ini berfungsi untuk mengembalikan
keserasian yang terganggu akibat adanya pelanggaran norma atau perilaku
meyimpang. Untuk mengembalikan keadaan seperti semula, perlu diadakan
pemulihan. Jadi, pengendalian disini bertujuan untuk menyadarkan pihak yang
berperilaku menyimpang tentang akibat dari penyimpangan tersebut, sekaligus
agar dia mematuhi norma-norma sosial.
c. Pengendalian sosial gabungan
merupakan usaha yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan (preventif) sekaligus mengembalikan penyimpangan yang
tidak sesuai dengan norma-norma sosial (represif). Usaha pengendalian dengan memadukan
ciri preventif dan represif ini dimaksudkan agar suatu perilaku tidak sampai
menyimpang dari norma-norma dan kalaupun terjadi penyimpangan itu tidak sampai
merugikan yang bersangkutan maupun orang lain.
d. Pengendalian resmi (formal)
ialah pengawasan yang didasarkan atas penugasan oleh
badan-badan resmi, misalnya negara maupun agama.
e. Pengawasan tidak resmi (informal)
dilaksanakan demi terpeliharanya peraturan-peraturan
yang tidak resmi milik masyarakat. Dikatakan tidak resmi karena peraturan itu
sendiri tidak dirumuskan dengan jelas, tidak ditemukan dalam hukum tertulis,
tetapi hanya diingatkan oleh warga masyarakat.
f. Pengendalian institusional (lembaga)
ialah pengaruh yang datang dari suatu pola kebudayaan
yang dimiliki lembaga (institusi) tertentu. Pola-pola kelakuan dan
kaidah-kaidah lembaga itu tidak saja mengontrol para anggota lembaga, tetapi
juga warga masyarakat yang berada di luar lembaga tersebut.
g. Pengendalian berpribadi
ialah pengaruh baik atau buruk yang datang dari orang
tertentu. Artinya, tokoh yang berpengaruh itu dapat dikenal. Bahkan silsilah
dan riwayat hidupnya.
4. Metode pengendalian
Metode
pengendalian pimpinan merupakan metode perencanaan dan pengendalian alokasi
sumber daya perusahaan dalam mencapai dilakukan empat tahap, yaitu:
- penyusunan program (rencana jangka panjang),
- penyusunan anggaran (rencana jangka pendek),
- pelaksanaan dan pengukuran,
- pelaporan dan analisis.
Proses
pengolahan organisasi dimulai dengan perencanaan strategik (strategic
planning) uang didalamnya terjadi proses penetapan tujuan organisasi dan
penentuan strategi untuk mencapai tujuan organisasi dan penentuan strategi
untuk mencapai tujuan tersebut. Setelah tujuan perusahaan ditetapkan dan
strategi untuk mencapai tujuan tersebut dipilih, proses pengelolaan organisasi
kemudian diikuti dengan penyusunan program-program untuk mencapai tujuan
organisasi yang ditetapkan dalam perencanaan stratejik.
Penyusunan
program merupakan proses pengambilan keputusan mengenai program yang akan
dilaksanakan oleh organisasi dan penaksiran sumber yang dialokasikan kepada
setiap program tersebut. Program merupakan rencana jangka panjang untuk
mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan dalam perencanaan stratejik.
Rencana jangka
panjang yang dituangkan dalam program memberikan arah ke mana kegiatan
organisasi ditujukan dalam jangka panjang. Anggaran merinci pelaksanaan
program, sehingga anggaran yang disusun setiap tahun memiliki arah seperti yang
ditetapkan dalam rencana jangka panjang. Jika tidak disusun berdasarkan
program, pada dasarnya organisasi seperti berjalan tanpa tujuan yang jelas.
Proses
penyusunan anggaran pada dasarnya merupakan proses penerapan peran (role
setting) dalam usaha pencapaian tujuan organisasi. Dalam proses penyusunan
anggaran ditetapkan siapa yang akan berperan dalam melaksanakan sebagai
kegiatan pencapaian tujuan perusahaan dan ditetapkan pula sumber ekonomi yang
disediakan bagi pemegang peran tersebut, untuk memungkinkan ia melaksanakan
perannya. Sumber ekonomi yang disediakan untuk memungkinkan pimpinan berperan
dalam usaha pencapaian tujuan organisasi tersebut diukur dengan satuan moneter
standar yang berupa informasi akuntansi. Oleh karena itu, penyusunan anggaran
hanya mungkin dilakukan jika tersedia informasi akuntansi pertanggungjawaban,
yang mengukur berbagai sumber ekonomi yang disediakan bagi setiap manajer yang
berperan dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam tahun
anggaran. Dengan demikian, anggaran berisi informasi akuntansi
pertanggungjawaban yang mengukur sumber ekonomi yang disediakan selama tahun
anggaran bagi manajer yang diberi peran untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam
sebagai alat pengirim peran (role sending device) kepada pimpinan yang
diberi peran dalam pencapaian tujuan perusahaan. Proses penyusunan anggaran
merupakan proses penetapan peran yang menggunakan informasi akuntansi
pertanggungjawaban untuk menyiapkan nilai sumber ekonomi yang disediakan bagi
setiap pimpinan pusat pertanggungjawaban guna melaksanakan perannya
masing-masing.
Partisipasi
para pimpinan dalam penyusunan anggaran merupakan faktor yang menimbulkan “self
control” dalam pelaksanaan anggaran. Partisipasi adalah suatu proses
pengambilan keputusan bersama oleh dua pihak atau lebih yang mempunyai dampak
masa depan bagi pembuat keputusan tersebut. Partisipasi dalam penyusunan
anggaran berarti keikutsertaan pimpinan kegiatan dalam memutuskan bersama
dengan komite anggaran mengenai rangkaian kegiatan di masa yang akan datang,
yang akan ditempuh oleh pimpinan kegiatan tersebut dalam pencapaian tujuan
perusahaan. Tingkat partisipasi pimpinan kegiatan dalam penyusunan anggaran
akan mendorong moral kerja yang tinggi dan inisiatiaf para pimpinan. Moral
kerja yang tinggi merupakan kepuasan seseorang terdapat pekerjaan, atasan, dan
rekan sekerjanya. Moral kerja ditentukan oleh seberapa besar seseorang
mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari organisasi. Agar proses penyusunan
anggaran dapat menghasilkan anggaran yang dapat berfungsi sebagai alat
pengendalian, proses penyusunan anggaran harus menanamkan “sense of
commitment” dalam diri penyusunannya. Proses penyusunan anggaran yang tidak
berhasil menanamkan “sense of commitment” dalam diri penyusunannya
berakibat anggaran yang disusun tidak lebih hanya sekedar sebagai alat
perencanaan; yang jika terjadi penyimpanan antara realisasi dari anggarannya,
tidak satu pun pimpinan yang merasa bertanggung jawab.
Di samping
program dan anggaran sebagai periode pengendalian, pelaksanaan rencana yang
tertuang dalam program dan anggaran memerlukan sistem informasi akuntansi untuk
mengukur konsumsi sumber daya dalam pencapaian tujuan organisasi. Sistem
informasi akuntansi digunakan untuk dasar pelaksanaan tahap ketiga dan keempat
pengendalian; pelaksanaan dan pengukuran; dan pelaporan dan analisis.
5. Syarat-syarat pengendalian
efektif
Beberapa syarat yang sebaiknya
dipenuhi dalam sebuah pengendalian adalah sebagai berikut :
1.Terencana dengan matang
2.Memiliki Prosedur Operasional
Standar dalam implementasinya
3.Dijalankan oleh orang yang
amanah dan berkapasitas
4.Akuntabel/transparan dan
tertulis
5.Efisien dalam penggunaan
anggaran
Adapun pendapat lain yaitu :
Pengendalian
terbaik dalam organiasasi adalah berorientasi pada strategi dan hasil, dapat
dipahami, mendorong pengendalian diri (self-control), berorientasi secara waktu
dan eksepsi, bersifat positif, setara dan objektif, fleksibel.
Tipe-tipe
pengendalian (awal) preliminary, kadang-kadang disebut kendali feedforward, hal
ini harus dipenuhi sebelum suatu perkerjaan dimulai.
Kendali ini menyakinkan
bahwa arah yang tepat telah disusun dan sumber-sumber yang tepat tersedia untuk
memenuhinya.
Tipe-tipe
pengendalian (saat ini) concurrent berfokus pada apa yang sedang terjadi selama
proses. Kadang-kadang disebut kendali steering, kendali ini memantau operasi
dan aktivitas yang sedang berjalan untuk menjamin sesuatunya telah sedang
dikerjakan dengan tepat.
Tipe-tipe
pengendalian (akhir) post-action; kadang-kadang disebut kendali feedback ,
kendali ini mengambil tempat setelah suatu tindakan dilengkapi. Kendali akhir
berfokus pada hasil akhir, kebalikan dari input dan aktivitas.
Manajer
memiliki 2 pilihan luas dengan memperhatikan pengendalian. Mereka dapat
mengandalkan orang-orang untuk melatih pengendalian diri (internal) atas
tingkah lakunya sendiri. Alternatif lain, manajer dapat mengambil tindakan
langsung (external) untuk mengendalikan tingkah laku orang lain.
Pengendalian
internal memberikan individu yang termotivasi untuk melatih pengendalian diri
dalam memenuhi harapan pekerjaan. Potensi untuk pengendalian diri dikembangkan
ketika orang yang mampu memiliki tujuan tampilan yang jelas dan dukungan
sumber-sumber yang tepat.
Pengendalian
eksternal terjadi melalui supervisi personal dan penggunaan sistem administrasi
formal antara lain sistem penilaian penampilan, sistem kompensasi dan
keuntungan, sistem disiplin kepegawaian, dan management-by-objectives
(manajemen berdasar tujuan).
Kompensasi dan
keuntungan dari sistem pengawasan dan pengendalian yang baik adalah:
¨ Akan
menarik orang berbakat dan mempertahankannya di dalam organisasi.
¨ Memotivasi
orang untuk menggunakan usaha maksimum dalam pekerjaannya.
¨ Menyadarkan
nilai dari kontribusi penampilannya.
Membuat Prosedur
Pengendalian yang Efektif
Prosedur
merupakan langkah-langkah yang harus diterapkan untuk melaksanakan kegiatan
teknis maupun administratif guna menjaminterselenggaranya kebijakan yang telah
ditentukan secara ekonomis dan efisien.Manajemen berkewajiban menciptakan
prosedur yang baik sehingga menjaminterciptanya sistem pengendalian manajemen
yang efektif.Faktor-faktor dari unsur prosedur yang efektif antara lain
meliputi:
a.Prosedur yang
dibuat harus selaras dengan kebijakan yang telahditetapkan.
b.Prosedur dibuat dalam bentuk tertulis dan sistematis untuk menjamin pelaksanaan kegiatan secara ekonomis, efisien dan efektif serta ditaatinya peraturan/ketentuan yang berlaku.
b.Prosedur dibuat dalam bentuk tertulis dan sistematis untuk menjamin pelaksanaan kegiatan secara ekonomis, efisien dan efektif serta ditaatinya peraturan/ketentuan yang berlaku.
c.Prosedur yang
dibuat telah memperhatikan unsur pengecekan internalsehingga hasil pekerjaan
seorang pegawai secara otomatis dicek oleh pegawai lain yang bebas melakukan
tugasnya tanpa dipengaruhi atauterpengaruh oleh orang lain.
d.Prosedur yang diciptakan tidak duplikatif dan tidak bertentangan dengan prosedur lain.
d.Prosedur yang diciptakan tidak duplikatif dan tidak bertentangan dengan prosedur lain.
e.Prosedur yang
diciptakan telah menjamin kelancaran pemberian pelayanankepada pengguna.
f.Prosedur yang dibuat tidak rumit, melainkan sederhana dan mudahdimengerti serta dilakukan peninjauan kembali secara berkala. Prosedur yang lambat dan berbelit-belit dalam pengurusan sertifikat tanahmerupakan contoh prosedur yang tidak menjamin kelancaran pemberian pelayanan kepada masyarakat.
f.Prosedur yang dibuat tidak rumit, melainkan sederhana dan mudahdimengerti serta dilakukan peninjauan kembali secara berkala. Prosedur yang lambat dan berbelit-belit dalam pengurusan sertifikat tanahmerupakan contoh prosedur yang tidak menjamin kelancaran pemberian pelayanan kepada masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
- A.A. Gde Manunjaya. 1999. Manajemen Kesehatan. Jakarta: EGC.
- Azrul Azwar. 1988. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi kedua. Jakarta: PT. Bina Rupa Aksara.
- Dee Ann Gillies. 1989. Nursing Management. Philadelphia: WB. Saunders Company.
- Eleanor J. Sullivan dan Phillip J. Decker. 1985. Effective Management in Nursing. California: Addison-Wesley Publishing Company.
- H. Moh. Isa. 1980. Beberapa Bacaan tentang Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai Depkes RI.
- T. Hani Handoko. 1995. Manajemen. Edisi kedua. Yogyakarta: BPFE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar